Justin Bieber Mendominasi Peta Online Music di 2011

Ada baiknya para artis dan manager artis ataupun pebisnis musik dapat memahami bagaimana situasi musik online di 2011 untuk eksekusi lebih baik di 2012.

Sebuah perusahaan analisa untuk industri music, Next Big Sound (NBS), merilis sebuah laporan aktifitas di sosial media yang berkaitan dengan musik. Dengan metodologi yang menggabungkan analisa dari Facebook Fans, lagu yang diputar di Soundcloud, Twitter Follower, Views di Vevo dan YouTube, profil di MySpace hingga berapa kali kunjungan halaman di Wikipedia, NBS mampu memberikan informasi tingkat ‘ketenaran’ artis di ranah online. Hasilnya hampir semua channel online didominasi oleh Justin Bieber, setidaknya dia menempati urutan 5 besar di tiap online media. Dan juga secara total, Justin Bieber adalah artis yang paling popular di internet sepanjang 2011.

NBS juga dapat digunakan untuk kita memantau ketenaran artis/band kita di ranah online. Sebagai contoh saya membandingkan antara Everybody Loves Irene, White Shoes & The Couples Company dan thedyingsirens. Walhasil adalah seperti yang terlihat dibawah. ELI yang memang tidak ada aktifitas setahun belakangan akan terlihat tiarap saja grafiknya, berbeda dengan WSATCC yang sedang bersiap berangkat ke MIDEM namun sayang setelah tanggal 22 Januari gaungnya turun lagi.

Belajar dari sini, terbukti sangatlah penting banget punya nama band yang unik agar mudah dipetakan di ranah online media.

Membudayakan Diskusi Untuk Kemajuan Musik Indonesia

Rabu lalu saya diundang Aulia Masna (@aulia) dan Adib Hidayat (@adibhidayat) untuk menikmati sore di Rolling Stone Cafe. Tak dinyana ternyata turut hadir Robin Malau (@lowrobb) dan Ario Tamat (@barijoe). Robin setau saya berdomisili di Bali dan Bandung, eh ternyata sudah jadi warga Jakarta. Sedangkan Ario adalah veteran di industri musik yang ‘liburan’ di Vietnam sudah lebih dari satu tahun dan kini sedang mencari ‘pekerjaan’ di Jakarta. Kami ngobrol-ngobrol seputaran rencana pemerintah dalam hal ini Ibu Mari Elka Pangestu ( 冯慧兰), Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, berniat untuk mendorong industri ekonomi kreatif dengan menstimulasi pelaku industri musik lewat entah apa caranya. Seperti yang pernah gue kutip dari wawancara beliau dengan NBC tentang niat mendorong ekonomi kreatif Indonesia http://widiasmoro.web.id/?p=1535, gue menanggapi ini dengan positif.

Untuk menstimulasi pertumbuhan tersebut kami sepakat untuk mengadakan semacam forum diskusi yang melibatkan banyak aspek. Pemerintah dalam hal ini dapat bertindak sebagai pelindung dan penggerak. Pelaku-pelaku industri musik pun bukan lagi hanya musisi dan perusahaan rekaman yang bicara. Perlu juga dilibatkan perusahaan telekomunikasi yang selama lima tahun terakhir telah bersumbangsih dengan ringback-tone, penyedia layanan content provider, bahkan sampai pengembang aplikasi untuk musik. Tentu saja dengan tidak mengesampingkan peranan event organiser dan media-media seperti radio, cetak dan televisi yang bisa saja mempunyai ide, solusi atau contoh kasus untuk menginspirasi ide-ide bisnis musik yang baru.

Ngimpi gue sih kita di Indonesia punya satu forum seperti Music Matters di Asia atau Midem di Cannes ataupun forum-forum diskusi musik seperti di Amrik. Syukurlah Aulia, Adib, Ario dan Robin pun punya impian yang senada.

Di kenyataan semua orang bisa jadi terkenal lewat YouTube atau rekaman dan release album dari kamar sendiri tanpa pergi ke studio rekaman, rasanya semua orang berhak terinspirasi dan menginspirasi.

Selain forum diskusi, Robin punya ide untuk mengembangkan wiki untuk arsip musik Indonesia. Ini bakalan seru banget. Banyak lagi ide-ide lain yang terlontar dan keprihatinan serta optimisme terhadap kondisi industri musik di Indonesia saat ini. Padahal diskusinya masih berlima, gimana kalau banyak yang ikutan? Gue sih yakin pastinya akan ada yang comes out dengan solusinya dan nanti yang lain akan mengikuti.

Dengan menumbuhkan budaya diskusi dan berbagi ide dan inspirasi ini semoga saja kekagetan tragedi matinya RBT beberapa bulan lalu tidak terulang lagi karena pelaku industri musik telah siap dengan skenario cadangannya. Pertanyaan gue sekarang adalah… ‘are you in?’

 

foto dari kamera iphone nya mas Adib

 

 

Penjualan Ponsel Nokia Series40 Tembus 1,5 Milyar

Ambisi Nokia menghubungkan jutaan orang lagi lewat perangkat komunikasi yang ‘affordable‘ mencapai tonggak pentingnya saat angka penjualan ponsel Series40 menembus 1,5 milyar.

Dalam press releasenya hari ini, Nokia mengumumkan sejarah penting pencapaian penjualan 1,5 milyar ponsel berjenis S40. Diiringi seremoni ucapan terima kasih kepada Mayara Rodrigues (21 tahun), gadis asal Brasil yang tak lain adalah pembeli ke 1,5 milyar yang membeli ponsel Nokia Asha 303.

Ponsel S40 Nokia pertama kali dipasarkan tahun 1999 dengan tipe Nokia 7110. Sejak saat itu, inovasi menghadirkan ponsel berjenis ‘feature phone’ terus dikembangkan. Hingga tahun ini Nokia merilis keluarga Asha yang merupakan ponsel S40 yang affordable sekaligus tidak ketinggalan teknologi.

Ponsel berjenis ini kini telah mampu menampilkan berbagai aplikasi menarik seperti Nokia Maps for Series 40 untuk membantu kamu menjelajahi kota, Nokia Browser dengan kompresi paket data yang akan bikin pengalaman internet kamu makin nyaman tanpa takut pulsa boros, Nokia Life Tools yang punya info-info kesehatan, pertanian dan juga pendidikan serta Nokia Music dimana kamu bisa download lagu secara gratis selama 6 bulan.

Di Indonesia sendiri, keluarga Asha yang telah dirilis adalah Nokia Asha 200 yang punya keunggulan keyboard Qwerty dengan dual-sim easy swap, Nokia Asha 300 yang punya keunggulan layar sentuh dengan kamera 5 mega pixel dan Nokia Asha 303 dengan keyboard Qwerty dan juga layar sentuh.

Dari sisi entertainment, Nokia Asha 300 dan 303 sudah dapat memainkan permainan Angry Birds. Ponsel dengan fitur pemutar musik akan lebih afdol kalau lagu-lagu yang ada didalamnya legal. Untuk itulah dihadirkan layanan Nokia Music untuk semua keluarga Asha. Sebuah layanan download lagu gratis selama 6 bulan. Tanpa proses registrasi yang ribet tinggal cari icon Nokia Music dan pilih lagu yang kamu suka untuk di download. Kamu juga diberikan keleluasaan untuk mendownload lewat ponsel ataupun PC/laptop yang terdaftar dengan menginstall Nokia Music Player. File lagu yang diberikan pun dengan ‘pintarnya’ akan memilih sesuai dengan perangkat apa kamu mendownload. Misalkan mendownload lewat ponsel maka kamu akan mendapatkan file eAAC+yang besarnya 1-2mb atau bila kamu mendownload lewat PC kamu akan dapat file MP3 256kbps yang besarnya kisaran 5mb lebih.

Format eAAC+ adalah codec (algoritma compression/decompression) yang dikembangkan untuk membuat file digital media dalam ukuran kecil namun dengan kualitas tinggi. Format eAAC+ menggunakan teknologi lebih mutakhir dibandingkan MP3, artinya kamu akan mendapatkan kualitas lagu yang sama dengan MP3 namun dengan ukuran file yang lebih kecil (atau dengan kata lain, kualitas lebih bagus dengan ukuran file yang sama).

Jadi tak perlu lagi takut kesedot pulsa atau memori penuh saat mendownload lewat ponsel dan kualitas lagu yang lebih baik akan tetap didapat.

Mary McDowell, EVP Nokia Mobile Phones, bilang, “Kami akan terus berkomitmen untuk menghubungkan jutaan lagi orang diseluruh dunia dan terus membantu mengubah kehidupan menjadi lebih baik.”

Digital Piracy, Dalam Infographics

Laporan IFPI baru-baru ini diterjemahkan dalam bentuk infographics oleh http://www.webpagefx.com. Dengan mengkombinasikan data-data dari RIAA dan beberapa sumber lainnya, dapat dipetakan berapa banyak kerugian yang ditimbulkan akibat ‘digital piracy’. Kesimpulan yang didapat dari sini adalah ‘digital piracy’ lebih merugikan dibanding kejahatan yang ditimbulkan oleh perompak/bajak laut bahkan lebih mengerikan karena banyak orang kehilangan pekerjaan akibat ‘digital piracy ini’.

Sebagian orang justru bersebrangan pendapat. ‘Digital piracy’ justru mendorong pertumbuhan industri konten sendiri. Karena dengan begitu konten akan lebih mengalir (baca: fluid) dan menjadi viral. Konon Pak Beye sendiri tidak bereaksi negatif saat tahu albumnya dibajak, meskipun konteksnya pembajakan album fisik.

Biarpun begitu, pencurian hak atas kekayaan intelektual membuat industri menjadi tidak berimbang. Kenyataan konsumen menginginkan konten yang relevan, mudah didapat dan gratis harusnya bisa dijawab dengan kebijakan regulasi dan juga teknologi.

Apakah loe juga setuju? Atau punya pendapat lain tentang ‘digital piracy’? Monggo…

 

Online Piracy in the Music Industry
Infographic by WebpageFX

Lady Gaga Manjakan Little Monster Dengan Social Media Khusus

Lady Gaga percaya akan ketenarannya tak lain berkat dukungan Little Monster, panggilan fans Lady Gaga diseluruh dunia, maka itu dibuatkan social media khusus untuk mereka.

Dengan dibantu start-ups pembuat platform sosial media di Silicon Valley bernama Backplane, Lady Gaga membangun situs jejaring sosial bernama Littlemonsters.com. Situs ini seakan menggabungkan jejaring sosial populer seperti Tumblr, Pinterest, Canvas dan Ning kedalam satu wadah yang cantik secara visual dan juga tidak terlalu ribet bila digunakan.

Mengintip apa yang dicoba Jason Kincaid dari TechCrunch, jejaring sosial ini terlihat pas buat fans Lady Gaga yang doyan dengan dandanan nyentriknya. Meskipun baru versi Beta, tampaknya sudah banyak yang mengantri untuk memiliki account di situs ini. Dan juga situs ini memerlukan undangan dari teman yang sudah bergabung didalamnya. Eksklusif sekali tampaknya. Gue sendiri pas mencobanya ternyata dapat urutan ke 1402. Weh!

Lady Gaga memang tak main-main memanjakan fansnya. Disinyalir Lady Gaga memiliki saham di start-up Backplane ini dan juga sang manager Troy Carter duduk sebagai co-founder-nya. Kontrol sepenuhnya bakalan dibawah pengawasan Lady Gaga dan dukungan jutaan fans di facebook dan twitter, situs ini diprediksi bakalan ramai.