Record Label Indonesia Ramai-Ramai Bikin Event Organizer

Kondisi record label di Indonesia pasca RBT reset atau gue sebut sebagai October Black-out tahun lalu memang menuntut untuk lebih kreatif supaya survive. Bila disekitar tahun 2006 record label ramai-ramai bikin artist management di tahun 2012 ini rupanya record label menambah layanannya yaitu mengatur event yang kamu mau lakukan.

Event Organizer adalah salah satu upaya record label mengisi revenue yang hilang dari turunnya traffic pengguna RBT. Dengan pengalaman sebelumnya sebagai artist management tentunya bukanlah hal sulit untuk merambah ke dunia event organizer. Berbekal repertoire artist yang berada dibawah managementnya, record label yakin mampu kompetitif dengan event organizer lainnya. Sejauh ini, gue sudah ditawari untuk menggunakan event organizer dari Trinity Optima, Sony Music, E-Motion dan juga Musica Studios.

One-stop solution yang tengah ditawarkan ini sangat baik sekali. Brand-brand yang memerlukan artis untuk activation productnya sudah nggak perlu repot-repot mencari event organizer. Hanya perlu diingat, persaingan event organizer bukan semata harga artis saja. Tuntutan kreatifitas juga perlu diperhatikan. Brand tentunya ingin menampilkan sesuatu yang beda saat melakukan activation agar menyerap banyak pengunjung. Kemampuan bernegosiasi harga dengan para vendor dan supplier juga sangat diperlukan.

Permasalahan lain adalah dengan mengingat tujuan brand menyelenggarakan activation untuk menyerap pengunjung, pastinya ingin mendapatkan artis-artis yang kaliber besar. Bisa saja artis yang diinginkan brand sebagai client EO tersebut tidak berada di bawah artis managementnya. Tentunya ini membuat EO harus pintar-pintar mensiasati dan berkolaborasi dengan yang lain. Seperti yang diungkapkan kawan saya Rietma yang sudah lama berkecimpung di bisnis event organizer, “Mereka (EO dari label) paham betul kok kalau mereka nggak bisa berdiri sendiri, kadang mereka datang juga ke kami, jadi mereka seperti punya perpanjangan tangan.”

Memang masih banyak pe-er nya, tetapi gue yakin mereka pasti bisa survive. Apalagi melihat kekuatan mereka ada di artis, mereka mampu menyelenggarakan event sendiri bekerja sama dengan cafe atau restoran untuk misalkan bikin meet and greet artis dan mengundang brand untuk mensponsori acara tersebut. Bukan tidak mungkin EO mereka yang lebih bergerak dan tentunya artis-artisnya pun mendapatkan keuntungan yaitu dapat bersosialisasi dengan fans dan juga keuntungan penjualan merchandise (bila ada) di event tersebut.

Jika kamu berminat mengggunakan Event Organizer dari record label di Indonesia silahkan hubungi beberapa nomer dibawah. Siapa tau dapat harga murah dan konsep event spektakuler.

Trinity Optima Production: David Tahalele 0816716826

Sony Music Indonesia: Dina Marliza 081210957666

 

info photo: Penyerahan Award Platinum kepada kontestan Akademi Fantasi Indosiar angkatan pertama oleh Rudy Ramawy, Managing Director Sony Music Indonesia saat itu.

Lady Gaga Dan Marketing

Seminggu belakangan ini Indonesia disibukkan pikirannya dengan konfirmasi keberlangsungan konser Lady Gaga. Rencananya konser akan digelar tangal 3 Juni 2012 di  Gelora Senayan. Namun dikarenakan ada ormas yang merasa Lady Gaga ini membawa pengaruh buruk bagi moral bangsa, maka pihak Kepolisian urung memberikan ijin keramaian untuk keberlangsungan konser tersebut.

Kabar burung, ini merupakan setting-an dari promoter yang katanya gagal menjual tiket sejumlah yang dijanjikan pada proses bidding awal. Kabar lain, ini sengaja dibuat supaya orang-orang makin tau kalau Lady Gaga bakalan konser di Jakarta. Ataupun karena persaingin bisnis antar promoter konser. Namun tidak ada sumber yang berani mengkonfirmasikan kebenarannya.

Terlepas masalah akidah, akhlak, aurat, surga dan neraka ataupun publicity stunt, buat gue Lady Gaga adalah contoh pemasaran yang bagus. Pemanfaatan jejaring sosial sangat maksimal dan dengan formula lagu repetitif serta bumbu kontroversi maka wajarlah ia bisa sebegitu terkenalnya.

Buat kamu yang mau tau resep Lady Gaga bisa sebegitu terkenal, coba aja simak video berikut ini:

XL, Musica Studios dan Musikkamu: Luncurkan Social Networking Dengan Musik

Sebagai salah satu operator seluler terbesar, XL Axiata berusaha terus kompetitif menggaet pelanggan dan memanjakannya dengan berbagai layanan. Bekerjasama dengan sebuah start-up lokal, Musikkamu, dan perusahaan rekaman lokal terbesar di Indonesia Musica Studios, XL menyediakan layanan social network dengan memanfaatkan musik sebagai daya tariknya.

Sebagai pengenalan, Musikkamu adalah sebuah portal social network yang mengedepankan fitur nonton konser via streaming artis-artis terkenal. Dibelakangi oleh Pak Nukman Luthfie, evangelist digital yang pernah sukses dengan Detik.com, portal ini mengedepankan artis-artis yang berada dibawah label Musica Studios seperti Nidji, D’masiv ataupun Geisha. Namun mereka berencana mengakuisisi artis-artis lain untuk memanfaatkan platform ini. Tak hanya video streaming, member dari Musikkamu dapat kelebihan berupa konten-konten eksklusif seperti wallpaper atau ringtone, aktivasi Ringbacktone dan juga info terkini dari artis pujaannya.

Dalam jumpa persnya kemaren, Rabu 16 Mei 2012, Musikkamu, XL dan Musica Studios bersama-sama meluncurkan versi mobile dari portal Musikkamu ini. Revie Sylviana, GM Content & Application PT XL Axiata Tbk menjelaskan, strategi XL saat ini adalah untuk memberikan para pelanggannya akses ke hiburan terutama content game dan musik lewat medium social network. XL juga menjelaskan mulai meninggalkan strategi untuk sekedar menyediakan content saja tanpa adanya platform social network. Lewat kerjasamanya dengan Musikkamu, XL memberikan pelanggannya kesempatan untuk berinteraksi dengan artis-artis kesayangannya cukup hanya dengan mengeluarkan pulsa Rp. 2,000.- dan juga untuk mendapatkan teman baru atau menemukan teman lama dengan social networknya.

Penasaran dengan layanan ini, gue mencoba untuk menguliknya lebih dalam. Gue menggunakan Lumia 610 dengan operator XL dan mengakses di http://m.musikkamu.com. Langkah awal adalah mendaftar akun baru untuk dapat gabung di musikkamu. Browsingnya sangat cepat dan tampilan mobile site cukup friendly, mungkin bisa ditambahkan untuk form pengisian pasword diberikan pilihan untuk melihat karakter yang ditulis, bukan dalam titik-titik, maklum gue suka salah ketik kalau pake keyboard touch-screen. Setelah selesai memasukkan semua data, kamu bakalan disuruh pilih avatar apa yang ingin digunakan, this is cool!

Proses registrasi Musikkamu

Gue berhasil berlangganan sebagai fans Nidji dan Sheryl Shenafia. Bermodal Rp. 2,200,- per artis, gue dijanjikan akan mendapatkan info-info dan download konten gratis lainnya selama satu minggu. Aktifasi ringbacktone pun sukses hanya dengan satu kali klik, tanpa harus mengirimkan kode SMS macem-macem. Gue dapet gratis selama satu minggu untuk ringbacktone ini dan setelah masa satu minggu lewat, akan secara OTOMATIS diperpanjang dengan biaya Rp. 6,050.-/30 hari. Wow!

Pilihan konten yang bisa didownload

Didapat layanan ini meskipun bisa diakses dari operator seluler apa saja namun untuk pembelian konten hanya bisa jika kamu pelanggan operator XL. Sayangnya, hingga ditunggu sampai lama gue tidak mendapatkan konten wallpaper, ringtone ataupun fulltrack download yang sudah gue minta. Semoga ini hanya glitch sistem belaka dan lekas diperbaiki.

Untuk fitur social networknya kamu harus menjadi fans dari salah satu artis baru dapat menemukan member-member lainnya. Dihalaman profil si artis kamu tinggal pilih chatting lalu nanti muncul halaman yang sebenernya mirip wall di facebook. Ternyata chatting disini bukan interactive real-time. Mungkin kedepannya bisa ditambah dengan suggested friend sehingga dapat mempercepat gurita mendapatkan teman.

Fitur Chatting Yang Ternyata Cuma Message Board

Koneksi dengan facebook dan twitter pun disediakan disini, jadi saat bergabung dengan salah satu artis yang ada di musikkamu, otomatis terupdate di facebook atau twitter.

Verdict, portal ini cukup menjanjikan sebagai the next social network platform buat fans musik. Dengan mengeluarkan versi mobile tentunya ini langkah cerdas untuk semakin mengibarkan benderanya dikalangan anak muda yang kini kebanyakan akses internet lewat ponsel. Kebolehan monetezing nya lewat potong pulsa memberikan jaminan bagi artis untuk menjaga pemasukannya. Buat fans musik terutama pelanggan XL juga dapat sarana baru mencari teman sambil lebih dekat lagi dengan artis kesayangannya dan juga mengkonsumsi musik secara resmi. Tinggal pekerjaan rumah XL dan musikkamu untuk menjaga agar layanan ini tetap up and running dan terus menarik bagi pelanggan, karena dari beberapa fitur yang ada terasa setelah menggunakannya selama satu jam gue sudah merasa bosan, hati-hati bahaya churn-rate mengancam.

 

Lagu Lama: Mencoba Memblokir Situs Ilegal Download (Lagi)

Menanggapi langkah pengaduan Ahmad Dhani ke DPR perihal maraknya download ilegal, pemerintah dalam hal ini Kementrian Komunikasi dan Informatika lewat menterinya Tifatul Sembiring bereaksi.

Dalam akun twitternya, Tifatul menyampaikan bahwasanya pemerintah telah melakukan langkah-langkah untuk menekan download ilegal dengan memblokir situs-situs yang dirasa meresahkan. Ada sekitar 20 situs penyedia download ilegal yang menurut pemerintah telah diblokir. Berikut penyampaian beliau dalam akun twitternya:

1. Kemenkominfo telah ikut mendukung program stop Illegal Downloading, khususnya karya-karya musik anak Negeri.#StopIllegalDownload

2. Sejak tahun lalu Kominfo aktif jalankan langkah2 untuk#StopIllegalDownload setelah bertemu dg para musisi, pencipta lagu & para CP

3. Pertemuan dihadiri oleh tokoh musik nasional: Sam Bimbo, Acil, Titiek Puspa, James FS, Giring Nidji, Geisha dll. #StopIllegalDownload

4. Tindak lanjutnya menjalankan tiga tahapan untuk kurangi bertahap pengunduhan ilegal lagu2 karya anak bangsa. #StopIllegalDownload

5. langkah yang kita sepakati waktu itu, pertama kampanye#StopIllegalDownload, kedua proses blokir situs yg lakukan pembajakan musik

6. Dan tahap ketiga melakukan penegakan hukum bagi pelakunya. Saat ini sedang dalam tahapan blokir situs pembajak#StopIllegalDownload

7. Untuk musik memang harus ada aduan (illegal downloading), baru diblok. Berbeda dengan pornografi (illegal content).#StopIllegalDownload

8. Mas @AHMADDHANIPRAST silakan lapor saja jika ada lagunya yang di download secara ilegal oleh situs apa. ☺ StopIllegalDownload

9. Jika ada pencipta lagu merasa dirugikan, laporkan ke Polisi, Kemenkominfo atau KemenkumHam, akan ditindaklanjuti.#StopIllegalDownload

Ahmad Dhani yang disebut-sebut disini merasa kurang puas terhadap respon dari Kementrian Kominfo, “wah gak seru…enakan ketemu menterinya dan bicara IT…dgn pakar IT sekalian…sapa tau kita bisa kasi saran…” Aksi yang dilakukan Kementrian Kominfo yang disebut diatas adalah aksi tahun lalu dan kini sudah kurang terasa gaungnya.

Kreatifitas anak bangsa terengut begitu saja tanpa dihargai karena hadirnya situs yang memberikan musik secara gratis. Padahal bagi fans musik harga yang dibayar untuk memiliki sebuah lagu terasa terlalu mahal, kata GRATIS adalah kuncian yang sukses buat mereka untuk tetap menikmati lagu.

Permainan saling unjuk antar pemerintah, artis, dan fans musik begini nggak akan pernah selesai. Pemerintah menunjuk bahwa internet lah yang salah dan penutupan situs-situs penyedia musik tadi menjadi jalur yang harus ditempuh. Disatu sisi, tidak ada solusi bagaimana cara mendapatkan lagu yang legal yang membuat fans musik akan terus mencari caranya mendapatkan lagu dari artis kesukaannya.

Artis merasa pemerintah terlalu tinggal diam membiarkan situs-situs tersebut beroperasi terlalu lama. Padahal ada juga artis yang tidak masalah karyanya dibajak. Media yang terlalu cluttered membuat jalur distribusi gratis, internet, adalah cara promo yang efektif dan efisien.

Fans musik juga jadi korban, padahal mereka hanya ingin menikmati lagu, mengapresiasi seni dan tak pernah ada maksud mencuri. Bagaimana bisa dibilang dia merugikan si artis jika lagu yang diunduh secara gratis tadi dinyanyikan dan dihayati begitu dalam sebagai bentuk apresiasinya kepada si musisi yang telah membuat karya sedemikian bagusnya?

Padahal kalau gue boleh telaah, demand nya ada yaitu kebutuhan menikmati musik, supply nya ada yaitu lagu-lagu para musisi, tinggal pemerintah melanggengkan jalan antara demand dan supply tadi dalam jalur tengah si penyedia konten atau developer IT untuk menghadirkan solusi yang win-win. Contohnya dengan INAICTA kemaren sudah tampil developer-developer lokal dengan idenya. Sekarang tinggal bagaimana supaya sinkron dengan bisnis musik.

Sorry to say, gue gak melihat tiga langkah yang dikemukakan tadi (pertemuan musisi, blokir situs, dan penetapan hukum) adalah langkah ideal. Ini bukan lagi era represif tapi sekarang adalah era SOLUSI. Mudah-mudahan kita semua: pemerintah, music label, artis, fans musik dan juga pengembang/developer IT bisa duduk bareng dalam satu forum untuk kemajuan industri kreatif musik Indonesia.

Indah Dewi Pertiwi Bakal Berbagi di Music Matters Tahun Ini

Music Matters kembali digelar di Singapura 22-26 Mei 2012. Ajang tahunan seminar musik para pelaku industri musik se-Asia ini bakalan juga bersanding dengan Digital Matters dan Gaming Matters yang erat kaitannya antara musik dan teknologi.

Bila tahun lalu ada Jason Mraz, Sandhy Sandhoro, dan Imogen Heap, maka tahun ini ada Indah Dewi Pertiwi (IDP). Siapakah dia? IDP adalah pemenang Dahsyatnya Award 2012, albumnya yang dijual melalui distribusi Kentucky Fried Chicken laku sejumlah 2 juta kopi dan diganjar penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI). IDP akan menjadi tamu dalam diskusi panel bertajuk “I’m With The Brand”  yang dipandu oleh Ted Cohen, Managing Partner, TAG Strategic, pada hari kedua Music Matters.

Selain itu yang lebih menarik adalah diskusi panel bertajuk “Final countdown”: Launching digital services in Asia. Panel yang dipandu Ruuben van den Heuvel, Executive Director, Gateway Entertainment akan menghadirkan bos-bos dari 7Digital, indie label The Orchard, Sonos dan Omifon. Panel ini akan mengulas tantangan-tantangan dan opportunity yang bisa diraih dari pasar Asia yang fragmented. Sayang dipanel ini tidak menghadirkan Spotify, Nokia Music ataupun Google Music.

Gue mendengar banyak kritik atas agenda Music Matters tahun ini, terutama dari sisi panelis dan topiknya yang dianggap kurang menggigit. Apalagi mengingat biaya yang cukup besar untuk ikutan seminar ini tentunya ingin mendapatkan sesuatu yang bisa diterapkan seusai acara dan bukan hanya mendengar jualan marketing.